Senin, 10 Desember 2007

Way of Life

Kita tidak pernah tahu dan memilih dari rahim mana kita dilahirkan, dari benih siapa kita berasal. Apakah orang tua kita cakep (which is how I look like), jelek (definitely not me), kaya, miskin, baik, jahat. Satu hal yang harus kita lakukan adalah mensyukuri apa yang ada. Sulit untuk bisa menerima keadaan yang tidak sesuai harapan kita, tapi satu hal yang pasti, banyak yang bisa kita dapat dari mereka. Bercermin kepada mereka akan membuat kita semakin kuat untuk melangkah, mengambil hal-hal positif, mengubah hal-hal negatif menjadi positif. Trust me, it works..

“dia” pun tidak pernah tau apa yang terjadi di hidupnya setelah ia bernafas di dunia ini. Her life is a miracle. Entah atas keinginan siapa ia hadir, namun ia terlanjur hadir. Seorang bayi mungil yang sama sekali belum tersentuh nafsu duniawi, membuat hampir semua orang tersentuh. “dia” saat bayi tinggal bersama nenek, ibu dan kakaknya. Bayi mungil ini terpaksa menerima kenyataan atas ketidak utuhan dirinya, tanpa bisa protes ataupun berontak. Ia hanya bisa diam melihat orang disekelilingnya datang dan pergi. Pernah sekali waktu, seorang lelaki paruh baya datang dengan kakaknya. Setelah berbicara sebentar, ia lalu pergi, tak lupa menciumnya sebelum pergi. Ingatan “dia” memang tak banyak, it’s a miracle, isn’t it? ^_^

Memori di taman kanak-kanak sedikit lebih banyak. Ulang tahunnya dirayakan di dalam kelas. Ada ibu dan kakak laki-lakinya disana. Semua teman bertepuk tangan, menyanyikan lagu panjang umur. Bu guru pun ikut menyanyi sambil menggoyangkan kecrek (alat musik seperti biasa dipakai pengamen, juga ariel peter pan ^_^). Sempat iri juga aku dibuatnya. Semua anak menyalaminya, dan ia dapat banyak hadiah hari itu. Miracle, isn’t it?

Yang aku yakini, sesampai di rumah ia langsung buka hadiahnya satu persatu, dibantu ibu dan kakak-kakaknya. Banyak barang bagus yang ia dapat. Jam weker, tempat pinsil, buku cerita, buku diary, dan lainnya. Jarum pendek sudah menuju angka Sembilan. “dia” pun segera diisyaratkan ibunya untuk tidur. Everything is fine. Fine as you think it is.

“dia” anak penurut, sebelum kekacauan hidupnya terjadi, sebelum kebebasannya terenggut, sebelum perhatian untuknya terambil alih. Tanpa disadari, ia lebih memilih bermain dengan anak laki-laki. Berkejaran melintasi teriknya lapangan upacara. Saling memukul saat bermain polisi-polisian. Berlari mengejar temannya saat main benteng. Berlari saat menemukan temannya sambil bermain petak umpat. Berlari ke kelas sesaat sebelum upacara berakhir. Berlari ke sekolah lima menit sebelum pelajaran dimulai. Berlari..berlari.. dan berlari..

Pernah sekali waktu, bersama teman-teman laki-laki, seperti biasa setelah pulang sekolah ia tidak langsung pulang. “dia”, dan teman-temannya, Mahar, Hakim, Flavio, asik bermain di taman belakang rumah. Bermain perosotan, jungkat-jungkit, ayunan, sampai terjadi suatu petaka. Mata Flavio terantuk papan jungkat-jungkit. Darah segar seketika mengalir dari ujung matanya. Mereka langsung membawa Flavio pulang ke rumahnya. Berusaha menjelaskan kepada ibunya, yang 10 detik sejak mereka sampai terus menyerocos mancaci maki mereka tanpa henti. Kasihan Flavio. Kasihan karena mata yang cedera, juga atas ketidakberdayaannya untuk memilih ibu yang melahirkannya. But that’s the way of life.

Life must go on. Sepandai apapun usaha “dia” untuk protes. Ia hanyalah anak kecil biasa. Ibunya tetap bekerja, pergi pagi, pulang malam. Kakak-kakaknya tetap pada kesibukannya masing-masing, sekolah, kuliah, bermain. Ayahnyalah satu-satunya teman terbaiknya. Ia pulang sekolah, ayahnya selalu menyambut dengan senyum dan panggilan sayang. Makan siang dilakukan berdua ayahnya. Ia pun seringkali diajak ayahnya pergi ke pasar, membeli ‘sparepart’ untuk mobil, mencetak stempel, membeli buah, sesekali membelikan mainan kesukaannya, monopoli. Permainan monopoli sedikit banyak memberikan kepuasan untuk “dia”. Ia bisa menentukan pilihan atas apa yang dimiliki sesuka hatinya. Ia bisa membangun rumah dimana saja. Menetapkan harga sewa atas negara dan rumah juga hotel di negara yang ia mau. Namun, ia seringkali membohongi ayahnya dengan kebohongan kecil khas anak kecil. Ia pernah pamit untuk main ke rumah tetangga, namun dengan hati yang terlanjur terbentuk keras, ia pergi naik sepeda keliling Senayan. Tak ada yang ia beli disana, pun tak ada yang ia temui. Hanyalah kepuasan hati anak pemberontak yang selalu terlihat patuh.

Hidup tak selalu bisa ditebak. “dia” kini menempati lingkungan baru, jauh dari Senayan, tempat pelarian jiwa pemberontaknya. Namun dekat Kemayoran ^_^. Seringkali ia menghabiskan waktunya berkeliling Kemayoran, naik metromini ke Senen. Bersepeda ke Cempaka Putih. Hidup memang tak selalu bisa ditebak, tapi selalu bisa menyenangkan. Ia menemukan teman-teman baru, yang kali ini kebanyakan perempuan. Laki-laki yang menjadi temannya, kebanyakan hanya senang menjailinya. Membuang tasnya keluar kelas, menjatuhkan pensilnya, menjenggut kuncir kudanya, menarik ikat rambutnya, yah anak laki-laki memang menyebalkan. Yang akhirnya “dia” sadari bahwa itu adalah bentuk kamuflase dari cinta anak laki-laki. Cinta? Cinta Monyet!

Life is never as smooth as you wish. Dalam jejak menuju kedewasaan, “dia” dihadapkan oleh satu pilihan yang sulit, menyenangkan dan menyedihkan bersamaan. Kenyataan hidup akan dirinya, tentu membuatnya tersadar dalam mimpi. Jiwa pemberontak muncul lagi setelah sekian lama teredam. “Dia” sangat menikmati hidup bersama ibunya, tertawa, bercanda, bermanja, namun saat teman-teman lain berbahagia setelah selesai masa ujian dan bagi rapor, “dia” harus menghadapi kenyataan hidup yang sulit diterima. Ayahnya tidak lagi seutuhnya miliknya.

Seringkali “dia” bermonolog dengan Tuhan. “Kenapa aku harus menjalani hidup seperti ini?”, “Apa salahku?”, “Apa salah ibuku?”. Laki-laki memang makhluk egois, terlalu mementingkan pride hidupnya.
Orang itu duduk di hadapannya, bercanda, tertawa dengan ibu dan kakaknya. Namun, mengapa “dia” tidak bisa ikut tertawa? Mengapa “dia” bergelut dengan pikiran dan perasaannya sendiri? Disaat mereka tertawa, ibunya sendiri disana… Tuhan selalu memberi hidayah pada umatnya dengan cara-cara yang tak terduga. Orang yang sangat “dia” cintai berbahagia. “Dia” pun bahagia tanpa keutuhan.

Tapi tetap, “dia” manusia biasa, sisi melankolis mengalahkan logika. Mulailah “dia” mencari arti hidup yang sebenarnya. Berganti-ganti pasangan, hanya untuk mengetahui tipe makhluk yang telah menyakiti ibunya. Waktu terus bergulir tanpa ia sadari, sampai ia terjebak atas ulahnya sendiri. Benar-benar merasakan jatuh cinta? Cinta? Apa itu Cinta? Cinta, benci, suka, derita, sudah ia kecap semua. saatnya melanjutkan hidup. Trust me, it’s not easy.

Ayah. Empat huruf yang bermakna milyaran kata. Sebut 3 kata yang merepresentasikan ayahmu. Hmm kurasa tidak cukup. 10 kata. 100 kata. 1000 kata. Semua masih kurang. It is complicated. Hidup “dia” dengan ayahnya complicated. Terlalu banyak kekecewaan atas ketidakadilan ayah pada dirinya. Ayah sepenuhnya orang asing baginya. Orang yang hanya ada atas kehendaknya sendiri. Orang yang sanggup melakukan apapun bahkan hal memalukan untuk kepentingannya sendiri. Tapi tetap saja makhluk itu ayahnya. Darahnya turut mengalir di nadinya. “Dia” tak kuasa untuk berontak, hanya bisa apatis dan menyerah pada keadaan.

But that’s the way of Life, tidak cukup kata untuk mewakili kesedihannya, begitupun kebahagiaannya. Satu hal yang perlu diingat, “dia” bahagia, dan akan selalu merasa bahagia, setelah menyadari bahwa it’s the best way of Life set by God Almighty.


Medio Dec, 2007

Selasa, 14 Agustus 2007

Past.. Present.. Future..

Making a decision to get rid of my past, doing many things with you at present, will change my future forever. It is quite long but yet quite short.. It's not just like the way u eat some bread in the morning. Can I go through this? I solemnly swear that it scares me out. Being an adult has frightened me out. But that how life goes...