Selasa, 22 Maret 2011

Si Penghijau

(Dari seorang Sahabat..)

Teh dalam cangkir keramik dihabiskannya pagi itu. Serpihan-serpihan teh terlihat menempel di bibirnya yang tipis. Teh tubruk yang dia minum. Bukan teh celup. Karena dia tak mau tubuhnya terkontaminasi chlorine pada kertas di teh celup. Dia pun tidak menggunakan tissue untuk membersihkan serpihan teh. Karena dia tidak ingin semakin banyak pohon yang ditebang. Dia memakai lap, yang bisa dia gunakan berulang kali.
Tak lama, setelah memakai sandal dan menggendong ransel kecilnya. Bergegas dia keluar dari rumahnya yang kecil dan asri menuju beranda di halaman depan. Diambilnya segayung air hujan sisa semalam yang tertampung pada tong besar. Dia siramkan air itu pada beberapa anakan tanaman yang tersusun rapih pada beberapa polybag berwarna hitam. Dia menanam pohon di rumahnya! Dia tumbuhkan sendiri anakan tanaman itu dari biji pohon besar yang berjatuhan di halaman rumahnya. Beberapa pohon Pinus yang tampak besar menghiasi halaman rumahnya, adalah hasil usaha dia yang telah dilakukanya sejak lama.
Setelah ritual pagi itu selesai, dia begegas keluar. Langkahnya terhenti oleh sisa kemasan plastik dan kertas yang tercecer. Dipungutnya sampah itu dan dipindahkannya ke tong-tong sampah yang tersimpan dekat pintu. Ada tiga tong. Dia masukkan sampah kertas ke tong berwarna putih, plastik ke tong berwarna merah. Satu tong lagi berwarna hijau, terisi oleh daun-daunan dan sampah organik rumah tangga. Sampah organik ini biasa dia olah bersama orang-orang di rumahnya untuk kemudian dijadikan pupuk kompos buat kebutuhan nutrisi tanaman yang dia tanam sendiri. Sampah kertas dan plastik, dia kumpulkan dan dia jual atau berikan kepada para pemulung. Sebuah siklus yang menguntungkan.
Dewi, itulah nama yang biasa disapa orang-orang bagi perempuan manis berambut panjang ini. Penampilannya sederhana dan enerjik. Hobinya jalan kaki dan membaca. Saat itu kemudian Dewi melanjutkan aktifitasnya. Pergi ke LIPI di Jl. Sangkuriang, tempat dia melangsungkan penelitiannnya untuk keperluan skripsinya. Tanaman Jarak Pagar yang dia teliti. Tanaman yang minyak dari ekstrak bijinya bisa menjadi pengganti bahan bakar fosil. Minyak ini ramah lingkungan, karena dengan kandungan emisi gas buang yang rendah. Harapannya lewat penelitian yang dia lakukan, kelak masyarakat akan beralih menggunakan bahan bakar hayati non emisi ini. Ketakutan akan habisnya minyak dunia pun akan terpecahkan. Dan yang paling penting, tercipta lingkungan yang lebih sehat.
Dia pergi berkendaraan umum untuk jarak yang jauh. Jika dekat, dia lebih senang berjalan kaki. Dewi tidak mau berkontribusi lebih banyak terhadap bertambahnya polusi udara. Dia tidak mau udara bebas semakin dipenuhi oleh CO2 yang akan membuat semakin menipisnya lapisan ozon. Pemanasan global pun akan semakin mungkin terjadi. Pun, dia tidak rela semakin banyak anak-anak menghirup Timbal (Pb) yang dapat mengakibatkan menurunnya IQ mereka. Atau kemandulan pada wanita dewasa.
Di persimpangan jalan, Dewi datangi sebuah warung kecil membeli sedikit cemilan untuk teman aktifitasnya hari itu. Saat apa yang ia pesan hendak diberikan oleh si penjaga warung, Dewi berisyarat agar makanan itu tidak dimasukkan ke kantung plastik. Dia membawa kantung sendiri. Berwarna putih terbuat dari sisa karung terigu. Air minum pun dia bawa sendiri dari rumah. Dia berusaha untuk tidak menghasilkan limbah dari botol-botol atau kemasan plastik. Dia seorang konsumen hijau.
Walaupun tampak sepele, tapi apa yang semua Dewi lakukan dalam kehidupan sehari-hari, dari hal-hal kecil, dia telah berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan yang lebih baik. Dia telah berperan untuk menciptakan bumi sebagai tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali, sesuai apa yang sangat cita-citakan. Dia bukan tipe orang yang hanya pintar berkoar-koar dan beretorika tentang selamatkan lingkungan, selamatkan lingkungan., Tapi dia membuktikannya lewat sebuah aksi nyata, lewat tindakan dia. Dewi telah mengalahkan egonya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar